Tampilkan postingan dengan label seni budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juli 2010

Pelestari Gong yang Diminati Negara Tetangga

TAK banyak pekerja seni di Kalimantan Barat yang mempunyai keahlian khusus membuat gong. Christian Mara, salah satunya. Kemasyhuran gong karya pria kelahiran Desa Resak, Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau ini hingga terdengar ke negeri tetangga. Bahkan oleh Thailand, Christian Mara ingin ’dibajak’ untuk menunjang salah satu ikon pariwisata negeri Gajah Putih ini yakni Pantai Phuket.


SUARA benturan logam itu terdengar hingga beberapa meter jauhnya. Masih berbunyi cempreng. Belum menggelegar. Di perkarangan rumahnya yang terletak di Gang Ringin Sari I Jalan Arteri Supadio Kabupaten Kubu Raya itulah menjadi ‘pabrik’ pembuatan gong Christian Mara.

Hari itu, Kamis (10/4), pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas V SD ini sedang membuat gong pesanan salah satu sanggar kesenian di Batang Tarang. Ia hanya bekerja sendiri. Tangannya terampil memalu logam kalvanis.

Sambil memalu, indra pendengaran Mara juga ikut bermain. Menangkap setiap getaran bunyi yang keluar dari logam itu. Ia berkonsentrasi mencari nada. Gelombang suara itu akan diolahnya. Hingga membentuk suara yang menggelegar. Suara itulah kelak yang diinginkannya.

”Ini pesanan sanggar kesenian dari Batang Tarang. Mereka minta buatkan gong bobonih/boneh. Gong ini suaranya terbuka. Menggelegar seperti guntur,” kata Mara.

Kesendirian Mara dalam membuat gong bukannya tidak beralasan. Ia mengaku kesulitan mencari tenaga terampil. Butuh orang-orang yang juga pandai mencari suara, peka terhadap bebunyian, dan mahir dalam merasakan getaran. Menurutnya, keahlian khusus itulah yang diperlukan bagi pembuat gong.

Menjadi bisa, bukan berarti harus belajar secara khusus. Mara contohnya. Keahlian membuat gong didapatkannya dengan jalan otodidak. Mencoba dan mencoba. Tidak patah arang ketika gagal dalam mencoba. ”Tidak ada belajar secara khusus,” katanya.

Ada beberapa bagian yang menurut Mara mempunyai kesulitan yang berbeda saat membuat gong. Bagian-bagian itulah yang akan membuat suara alat musik itu menjadi bergema.

Bagian cekung dari gong itu disebut gelombang suara. Sedangkan di sisi gong yang menjadi bingkai alat musik itu bertugas sebagai tabung suara. Sementara bagian bulat menonjol, yang menjadi sasaran pukulan, disebut sebagai pelempar suara. Bagian lainnya, yang terletak di antara pelempar dan gelombang suara bertugas untuk menyimpan suara.

Untuk mencari nada yang diinginkan dari gong, bagian-bagian itulah yang dimodifikasi Mara. Insting, pengalaman, diramu bakatlah yang mengelolanya.

Campuran intan

Menurut Mara, gong yang biasa dimainkan oleh masyarakat Dayak atau Melayu di Kalbar, pada umumnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok. ”Untuk suara umumnya menggunakan gong dengan bunyi menggelegar. Lain dengan gong dari Jawa. Bunyinya tidak terlalu menggelar,” terangnya.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak, gong banyak menyimpan arti. Gong menjadi salah satu bagian untuk mencipta musik yang menjadi sarana penyampaian maksud-maksud serta puja dan puji kepada yang berkuasa, baik terhadap roh-roh maupun manusia biasa. Selain itu gong juga digunakan untuk mengiringi bermacam-macam tarian adat maupun upacara ritual.

Gong Boneh misalnya. Kata Mara, alat musik ini juga digunakan dalam upacara adat Notongk, upacara penghormatan terhadap abak (tengkorak manusia) yang ada pada masa mengayau/bekayau atau ngayau/kayau. “Gong ini suaranya neriu. Tiga dimensi, pengantar, dalam, dan gema. Suaranya tegas. Jika dibunyikan di kampung, jarak tiga jam kita berjalan, suaranya masih kedengaran,” ujarnya.

Jenis gong lainnya yang terkenal yakni gong tama’. Menurut Mara, gong tama’ Kalbar peninggalan zaman nenek moyang, kini diburu oleh beberapa museum dari negeri Malaysia dan Hongkong dengan kisaran harga ratusan juta rupiah. Mengapa gong tersebut begitu beharganya?

“Di bagian tempat penyimpan suara itu ada emasnya. Sedangkan di bagian pelempar suara, ada campuran intan. Masyarakat Dayak pedalaman Kalbar masih ada yang menyimpan gong ini,” katanya.

Ada sejarah mengiringi keberadaan gong ini. Mara bercerita, dahulu kala gong ini digunakan oleh masyarakat Dayak untuk upacara ritual bagi pasangan yang ingin memiliki keturunan.

Pembuat Sape’

Naiknya harga besi ikut memengaruhi kreasi Christian Mara dalam penciptaan gong. “Saya juga terbentur modal,” akunya. Menurut Christian, selain dari logam kalvanis, bahan lainnya yang sangat bagus untuk membuat alat musik pukul tersebut yakni dari tembaga merah. “Harganya sangat mahal dan bahannya susah didapat. Tapi gong dari logam ini suaranya sangat bagus,” katanya.

Satu buah gong dengan ukuran sekitar satu meter, Christian bisa menghabiskan waktu selama seminggu untuk menciptakannya. Ia biasanya menjual alat musik ini per set. Satu setnya dia tawarkan dengan harga Rp9,5 juta.


Satu set alat musik tersebut juga diantaranya terdiri dari kenong, ketobong, sape’, dan sangsarut. Konsumennya banyak dari sanggar-sanggar kesenian di Kalbar hingga Pulau Jawa. “Bahkan dari Keraton Solo juga ada yang mesan dengan saya,” katanya.

Suami dari Mega dan ayah dari David Fernandes dan Kinsan Sures ini termasuk piawai dalam membuat alat musik tradisional lainnya. Ia pandai membuat beduk dan jago membuat sape’.

Khusus untuk sape’, sejenis gitar dengan dawai berjumlah 3 atau 4 yang biasanya diberi hiasan atau ukiran khas suku Dayak, Mara sudah terlatih membuatnya jauh sebelum dia mengenal cara membikin gong. “Kalau gong saya mulai membuatnya tahun 90-an, tapi kalau sape’ dari saya kecil sudah bisa membuatnya walau masih dalam bentuk aneh,” katanya.

Christian Mara juga merupakan penari tradisional Dayak, pembuat musik tradisional sekaligus memainkannya, pencipta lagu dan penyanyi yang tergabung dalam Sanggar Bengkawan.

Mengajar di Sibu

Keahliannya dalam kesenian tradisional ini mengantarkannya menjadi pelatih musik di Sanggar Sri Kelayang, Sibu, Malaysia selama dua tahun. Saat merantau ke negeri seberang itu, Mara lebih fokus pada kesenian Melayu. Bahkan dia mengajar murid-murid Malaysia, dari sekolah ke sekolah untuk belajar kesenian tradisional itu.

Di sana, dia banyak berteman dengan orang-orang yang secara khusus berkecimpung di dunia seni. Akademisi yang bergelar profesor seni pun menjadi sahabat karibnya. Penghargaan akan kesenian tradisional dan mempertahankan khasanah budaya bangsa begitu diperhatikan oleh pemerintah negara tetangga.

Secara khusus, dia juga menerima tawaran dari salah satu universitas kesenian di Thailand. “Mereka minta saya membikin alat musik tradisional sekaligus mendemontrasikannya di Pantai Phuket Thailand. Saya diharuskan membikin alat musik di sana dan disediakan tempat. Itu salah satu cara untuk memikat wisatawan. Tawaran itu tidak langsung saya iyakan karena akan tinggal di sana dalam jangka waktu lama,” katanya.

Menularkan ke generasi muda

Bersama rekan-rekan pekerja dan peminat seni budaya Kalbar lainnya, Christia Mara juga bergabung dalam wadah Majelis Budaya dan Seni Tradisi Terapan (Madyastrad) Kalbar pimpinan Mul’am Husairi.

Wadah ini membawa misi. Menggali tradisi budaya dan kesenian apa saja yang ada di Kalbar. Sasaran utama lembaga ini adalah melakukan pendidikan budaya dan seni tradisional Kalbar pada generasi muda. “Kita ingin agar generasi muda mengenal kebudayaannya. Mudah-mudahan ada respon dari pemerintah kita,” katanya.

Mengutip pernyataan Mul’am Husairi saat konfrensi pers pembentukan Madyastrad Kalbar pada awal Maret lalu di Hotel Santika, “Anak-anak muda kita kenal dengan alat-alat band saja, mungkin tak terlalu banyak yang bisa bermain sape’. Nah, harus ada peran semua pihak agar generasi muda kita juga tidak lupa dengan alat musik tradisional daerah kita.” (**)

Seni Dayak Christian Mara


Kompas.Com Sabtu, 3 April 2010 | 03:41 WIB
Penulis: Agustinus Handoko
Tradisi pembuatan alat musik etnis Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat makin sepi peminat. Bahan baku yang mahal, pembuatan sulit, dan memakan waktu lama, serta rendahnya daya beli pelaku seni menjadi penyebab.
Christian Mara (43), lelaki Dayak Jangkang, tak peduli dengan segala kesulitan tersebut. Bahkan, Mara harus sering menombok karena pemesan alat musiknya tak bisa membayar penuh.
”Saya prihatin dengan perkembangan seni tradisi Dayak. Sekarang tak banyak lagi yang masih mau membuat alat musik Dayak secara lengkap. Kalau begini terus, alat musik Dayak akan punah,” tuturnya.
Mara belajar membuat alat musik Dayak secara otodidak. Pada tahun 1985, seperti tahun-tahun sebelumnya, dia bersama keluarga dan kawan-kawan sekampungnya berbondong-bondong menonton pertunjukan seni dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI di Kecamatan Jangkang.
Mara dan orang-orang Kampung Rosak, Desa Pisang, Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, harus berjalan kaki lebih dari enam jam menuju kantor kecamatan. Maklum, ketika itu tak ada kendaraan dan memang tidak ada jalan yang bisa dilalui kendaraan.
Pertunjukan seni memang hanya ada sekali setahun di Jangkang. Itulah satu-satunya hiburan bagi masyarakat. Tak mengherankan kalau masyarakat rela berjalan kaki untuk menonton. ”Kalau dari kampung kami belum seberapa, ada kampung lain yang warganya harus berjalan hingga dua hari untuk sampai ke kantor kecamatan,” kata Mara.
Otodidak
Di pertunjukan seni itu, Mara mulai tertarik pada alat-alat musik yang dipakai selama pertunjukan. Sepulang dari menonton pertunjukan itu, dia mulai belajar membuat sape atau gitar khas Dayak, menggunakan kayu pelai atau jelutung. ”Saya berhari-hari membelah kayu karena alat yang saya pakai hanya parang, bukan kapak,” tutur Mara. Berbekal alat musik buatannya, Mara belajar musik bersama sejumlah kawannya.
Pelajaran otodidak membuat gitar Dayak terhenti ketika Mara berhenti sekolah pada kelas IV Sekolah Dasar Pisang karena kawan-kawannya sudah lulus dan melanjutkan ke sekolah menengah pertama di ibu kota kecamatan.
Berbekal tiga gantang gabah dan seekor ayam jantan, dengan jalan kaki selama dua hari karena beban yang terlalu banyak, Mara meminta kepala SMP di kecamatan agar menerimanya menjadi murid. Mara pun diterima menjadi murid SMP.
Namun, Mara yang menggebu-gebu sekolah karena bercita-cita ingin jadi tentara itu akhirnya menyerah setelah enam bulan masuk SMP dan tinggal di ibu kota kecamatan.
”Orangtua di kampung tak mampu membiayai. Saya juga sempat bekerja mengangkut kayu pada malam hari untuk ongkos sekolah, tetapi akhirnya putus asa juga, lalu saya memilih berhenti sekolah,” ujarnya.
Mara kemudian bekerja di pabrik kayu lapis di Malaysia. Dia pernah juga terdampar di Hongkong selama dua tahun setelah ikut kapal milik seorang polisi Hongkong. Di Hongkong, dia terjebak dalam rantai mafia narkotika. Ketika itu, Mara yang masih seumuran anak SMP disuruh menjadi kurir obat-obatan yang disebut tengko.
Setelah sadar hidupnya ada di jalur maut, Mara berusaha keluar dan sampailah dia di kampung halamannya tahun 1980. Pada tahun 1982, dia merantau ke Kota Pontianak karena ada penerimaan calon pegawai negeri sipil di Bandara Supadio, Pontianak. Hanya berbekal surat lulus dari SD yang ditandatangani oleh gurunya, upayanya mencari pekerjaan di jalur birokrasi itu pun gagal.
Membuat sanggar
Mara bersama sejumlah kawan kemudian bermain musik di Pontianak dan membuat sanggar pada tahun 1986.
”Sanggar itu termasuk yang menjadi embrio lahirnya sanggar-sanggar seni lainnya di Pontianak. Ketika itu, kami masih pinjam alat musik dari mana saja untuk pentas,” kata Mara. Sanggarnya diberi nama Bengkawan, mengambil nama gunung tertinggi di kampungnya.
Dari desakan ketiadaan alat musik itu, Mara kemudian kembali belajar membuat alat-alat musik etnis Dayak dan Melayu. Bakat membuat alat musik etnis itu rupanya memang salah satu kelebihan Mara. ”Saya juga heran, tak terlalu sulit saya belajar membuat alat-alat musik yang kami butuhkan,” ujarnya.
Sejak saat itu, Mara menjadi pembuat alat-alat musik Dayak, juga alat musik gambus khas melayu. Alat-alat musik Dayak yang dibuat Mara adalah ketobong (kendang panjang), sobang (bedug), sape, seruling, gong, kenong, saron, dan bansilabu (semacam seruling yang dibuat dari tangkai labu).
Tak hanya mahir membuat alat musik, dia yang memang memiliki bakat seni itu juga cekatan menciptakan tarian-tarian dari hasil kreasi tarian Dayak. Di sanggarnya, Mara juga sekaligus menjadi penari.
Dibajak
Selain itu, Mara juga menciptakan lagu-lagu daerah Dayak. Sudah delapan album Dayak yang dihasilkannya. Padahal, Mara mengaku tak mahir mengucapkan notasi solmisasi.
”Saya buat lagu dengan membuat ceritanya dahulu. Setelah itu baru saya kasih nadanya. Saya dengarkan lagi, kalau ada nada yang tidak tepat dengan ceritanya, baru saya perbaiki,” ujarnya.
Mara yang masih menunggu proses penyelesaian album Dayak yang ke-9 mengaku kelelahan melawan pembajakan musik. ”Saya hampir-hampir menyerah melawan pembajakan. Pernah suatu ketika saya bakar kaset-kaset saya. Bayangkan, saya yang punya album baru membawa 500 kaset dari album baru ketika pertunjukan, di pasaran sudah ribuan kaset bajakan yang beredar,” tuturnya.
Berbekal kemahiran menari dan bermain musik, seniman Dayak itu sudah beberapa kali pentas di Malaysia dan Brunei. Beberapa bulan lalu, dia juga pentas di Australia dalam sebuah lawatan budaya.
Kini, Mara menghabiskan waktu untuk membuat alat musik dan mencipta lagu di rumahnya di Kampung Wonodadi, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Satu set alat musik Dayak yang dibuat Mara sebetulnya harus dihargai sekitar Rp 20 juta jika menghitung biaya bahan, waktu, kerumitan, dan tenaga yang dibutuhkan.
”Namun, kalaupun dijual Rp 10 juta, tak banyak yang bisa membeli. Ya, mau apa lagi, karena hanya dengan membuat alat musik inilah saya bisa melestarikan budaya Dayak. Saya rela menjual alat musik ini sesuai kemampuan pemesan,” kata Mara.
CHRISTIAN MARA
• Lahir: Sanggau, 21 Juli 1967
• Pendidikan: Kelas IV Sekolah Dasar Pisang
• Pekerjaan: Seniman • Istri: Bega (35)
• Anak: David Fernandes (16), Kinshan Sures (13)
• Karya: - Tari: kendang alu, enggang, tengkawang, beberapa tarian anak - Lagu: delapan album
• Penghargaan: Anugerah Kebudayaan 2009 dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Pelestari dan Pengembangan Budaya.

Minggu, 04 Juli 2010

Sanggar Bengkawan


Sanggar Bengkawan merupakan sanggar tari Dayak Jangkang yang berdiri sejak 1985. Sekitar 54 pemuda dan pemudi bergabung di sanggar ini. Pada pagelaran tunggal nanti mereka giliran menampilkan tarian mereka di pagelaran tunggal.